Selasa, 11 Agustus 2020 | 00:57 WIB

Dari Diskusi Publik "Genosida Kebudayaan" TIM, WAJAH-WAJAH DAN SUARA PERLAWANAN..

foto

 

Dari Diskusi Publik "Genosida Kebudayaan" TIM, WAJAH-WAJAH DAN SUARA PERLAWANAN..

www.transaktual.com

Genosida kebudayaan kita lawan! Kita lawan! Dan kita lawan!” (Nano Riantiarno, Teater Koma). ✊🏻

“Seluruh elemen di bangsa ini harus melawan. Tidak peduli siapa yang dilawan itu! Mari, kita melawan kekejian dan asasinasi kebudayaan!” (Radhar Panca Dahana)

“Pembangunan revitalisasi Taman Ismail Marzuki harus segera dihentikan! Dilakukan moratorium, sebelum ada pembicaraan lebih lanjut antara seniman, pekerja budaya, dan pegiat seni, dengan pemerintah provinsi DKI Jakarta. Dan Jakpro, tidak boleh mengelola pusat kesenian Taman Ismail Marzuki, apalagi untuk 30 tahun. Itu adalah suatu pelanggaran, dan harus dicabut peraturan itu!” (Noorca M. Massardi).

“Pemerintah kita, khususnya Pemerintah DKI Jakarta tidak mempunyai orientasi kebudayaan yang jelas. Hal ini harus diuji melalui meja hijau. Segera kita akan ajukan gugatan terhadap proyek pembangunan yang kami duga terindikasi pelanggaran dan cacat-cacat hukum di dalamnya. Baik dari segi prosedur dan tata ruang peruntukannya!” (Erwin Kallo, Ketua Dewan Kesenian Makasar).

“Hentikan niat-niat itu! Dan jangan membangun hotel di rumah budaya ini. Kembalikan TIM kepada khittahnya, kepada asalinya. Menjadi panggung atau galeri, tempat seniman berekspresi. Aku dengan tegas memperkatakan: Stop pembangunan di dalam kompleks TIM! Biarkan kami, seniman, mengurus segala sesuatu di dalam rumah budaya kami!” (Harris Priadie Bah)

#saveTIM kita!
#solidaritasnasionalbelaTIM
#pernyataanseniman