Senin, 25 Maret 2019 | 19:48 WIB

Mendengar Nama Seno dan Cak Mardi Disebut Saksi, Pengunjung Sidang Meikarta Malah Tertawa

foto

 

Mendengar Nama Seno dan Cak Mardi Disebut Saksi, Pengunjung Sidang Meikarta Malah Tertawa.

www.transaktual.com

Sidang lanjutan dugaan kasus suap izin Meikarta, Kamis (14/2/2019) malam. Terdakwa kasus suap perizinan proyek Meikarta, Henry Jasmen menyebut dua nama yang asing selama persidangan kasus ini digelar.

Saat ia bersaksi untuk terdakwa Fitradjaja Purnama dan Taryudi, Henry menyebut bahwa semua uang suap yang diberikan kepada ASN Pemkab Bekasi berasal dari Seno dan Cak Mardi.

Seperti diketahui, uang suap itu ‎diberikan oleh Henry Jasmen, Taryudi, dan Fitradjaja ke Jamaludin, Neneng Rahmi Nurlaili, dan Tina Karini Santoso dari Dinas PUPR Pemkab Bekasi; Sahat Banjar Nahor, Kadis Damkar; dan Kepala DPMPTSP, Dewi Tisnawati.

Khusus untuk uang suap Rp 10 miliar, di persidangan itu terungkap, diberikan oleh Edy Dwi Soesianto dan Satriyadi ke Bupati Bekasi, Neneng Hasanah Yasin.

"Semuanya dari Seno via Cak Mardi," ujar Henry Jasmen di lanjutan sidang kasus itu di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Bandung, Kamis (14/2/2019) malam.

Jaksa dan hakim mempertanyakan siapa Seno atau Cak Mardi tersebut. Namun, Henry tidak mengetahui siapa Seno tersebut. Ia berdalih bahwa Seno tersebut berusia sekitar 50 tahun, asal Surabaya dan punya asisten bernama Cak Mardi.

"Saya tidak tahu siapa detailnya. Yang pasti saya tahu, dia berinvestasi di jual beli tanah di sekitar Meikarta," ujar dia.

Henry juga menyebut bahwa uang SGD 90 ribu terkait rekomendasi dengan catatan (RDC) yang dikeluarkan oleh Pemprov Jabar dan diberikan pada Yani Firman, kepala seksi di Dinas Binar Marga Pemprov Jabar.

"Iya itu juga dari Seno lewat Cak Mardi," ujar Henry. Henry juga menyebut Seno lah yang membiayai operasional mereka mengurus perizinan Meikarta. Padahal, pada persidangan sebelumnya, saat menghadirkan saksi Samuel Thahir selaku CEO PT Star Pacific, Henry meminta operasional itu pada Samuel Thahir.

Henry juga menyebut bahwa Seno-lah yang memberikan uang gaji untuk Fitradjaja sebesar SGD 1.000 per hari. Pernyataan Henry terkait Seno dan Cak Mardi itu membuat jaksa dan hakim geram. ‎

"Dari sidang dakwaan, pemeriksaan saksi, saksi ahli, tidak ada itu nama Seno atau Cak Mardi, anda jangan ngarang," ujar hakim Judijanto Hadilesmana.

Jaksa KPK I Wayan Riana, juga menanyakan siapa sosok Seno karena dalam berita acara pemeriksaan (BAP), tidak ada nama Seno atau Cak Mardi.

Pernyataan-pernyataan Henry Jasmen soal Seno ini menyita waktu persidangan karena hakim dan jaksa menanyakan siapa Seno namun Henry tidak bisa menjawabnya.

Bahkan, kesaksiannya soal Seno ini mengundang gelak tawa dan jadi hiburan tersendiri engunjung sidang. Hakim, jaksa, pengacara, pengunjung turut tertawa setiap kali Henry menyebut nama Seno dan Cak Mardi.

"Persidangan ini sudah mengungkap bahwa uang-uang itu dari pengembang Meikarta, Anda sebut nama Seno, Anda sendiri tidak tahu siapa Seno. Tidak masuk akal, bagaimana bisa Seno berikan uang bermiliar-miliar tapi Anda tidak tahu siapa dia," kata Judijanto.

Padahal, jika melihat persidangan sehari sebelumnya dengan saksi Fitradjaja, mengatakan segala keperluan uang itu diurus oleh Henry Jasmen.

Bahkan, Fitra menyebut bahwa sedari awal ia diminta bantu untuk mengurus perizinan Meikarta, tidak pernah terbayang untuk menggunakan uang siap. Saat kesaksianya itu dikonfrontir ke Fitradjaja, ia mengaku pernah dipertemukan dengan Seno dan Cak Mardi.

"Saya dikenalkan oleh Henry Jasmen, sekali ketemu. Tapi saya tidak pernah membicarakan pekerjaan saya soal Meikarta dengan Seno‎ atau Cak Mardi. Dan saya tetap pada keterangan saya bahwa semua terkait uang diurus oleh Henry Jasmen," ujar Fitra.

Sidang berakhir pukul 23.30, lebih cepat 30 menit dari sidang sehari sebelumnya yang berakhir pada pukul 00.00.

Sidang selanjutnya mengagendakan pembacaan tuntutan.