Rabu, 23 Januari 2019 | 03:28 WIB

Tim KPK menggeledah kantor Satuan Kerja Sistem Penyediaan Air Minum (Satker SPAM)

foto

 

Tim KPK menggeledah kantor Satuan Kerja Sistem Penyediaan Air Minum (Satker SPAM).

www.transaktual.com

Kementerian PUPR di Bendungan Hilir, Jakarta Pusat. KPK menyita empat koper besar dan 3 boks dari dalam kantor tersebut.

Di lokasi, Jalan Pam Baru, Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, Senin (31/12/2018), KPK meninggalkan kantor tersebut sekitar pukul 23.15 WIB.

 

Penggeledahan ini merupakan lanjutan penyidikan atas kasus suap pembangunan SPAM di beberapa daerah. Penggeledahan berlangsung selama hampir 12 jam. Saat keluar petugas membawa 4 koper besar dan 3 boks barang bukti hasil penggeledahan. Barang bukti tersebut lalu dimasukkan ke dalam tujuh mobil untuk dibawa ke KPK.

 

Sebelumnya, KPK juga sudah menyita dokumen dan CCTV terkait proyek SPAM yang dikerjakan PT Wijaya Kusuma Emindao (WKE). "Sejauh ini diamankan dokumen-dokumen relevan terkait proyek-proyek penyediaan air minum, baik yang dikerjakan WKE atau TSP (PT Tashida Sejahtera Perkasa). Barang bukti elektronik berupa CCTV dan uang sekitar Rp 800 juta," kata Kabiro Humas KPK Febri Diansyah kepada wartawan, Senin (31/12/2018).

 

Selain di kantor Satker SPAM, KPK menggeledah kantor PT WKE. Dari lokasi kantor PT WKE, KPK saat ini menyita sejumlah dokumen terkait proyek SPAM yang dikerjakan perusahaan tersebut.


"Tim terus melakukan penelusuran di dua lokasi tersebut mengingat dugaan luasnya sebaran korupsi di proyek SPAM ini," ucap Febri.
KPK menetapkan delapan orang tersangka dalam kasus dugaan suap proyek pembangunan SPAM. Empat di antaranya merupakan pejabat Kementerian PUPR, yakni pejabat pembuat komitmen (PPK) SPAM Lampung Anggiat Partunggul Nahot Simaremare, PPK SPAM Katulampa Meina Waro Kustinah, PPK SPAM Darurat Teuku Moch Nazar, dan PPK SPAM Toba 1 Donny Sofyan Arifin.

 

Sedangkan empat orang lainnya dari pihak swasta adalah Dirut dan Direktur PT WKE, Budi Suharto serta Lily Sundarsih; dan dua direktur PT Tashida Sejahtera Perkasa, yakni Irene Irma serta Yuliana Enganita Dibyo.

(transakt)